TRANSLATE

Senin, 01 Juli 2013

Misteri Pantai Gosong bag 5(Kisah Misteri).

,"ah,mungkin tadi malam pak samir belum pulang,mungkin kami berselisih
jalan dengannya namun setelah berbincang bincang dengan pak samir,kami
sama sama terkejut,betapa tidak pak samir bilang kalo semalam dia
tidak meninggalkan rumah, dia sama sekali tidak menyadari kedatangan
kami.
Aku yakin kalau kami telah menggedor gedor pintu pondok bahkan sampai
mengintip dari jendelanya dan ternyata pondoknya kosong,beliau juga
menjelaskan bahwa bersantai di teras sekitar pukul delapan malam tepat
saat kedatangan kami,aneh..bagaimana mungkin kami tidak
melihatnya?."Keganjilan peristiwa ini membuat kami semua bergidik
seakan akan tadi malam itu semua hanya halusinasi kami.Padahal kami
semua keadaan normal dan sadar.
Pak Samir menjelaskan kejadian seperti ini sering terjadi di sekitar sini.
Banyak pengunjung dari kota yang menghilang tanpa di ketahui
jejaknya,mungkin mereka semua tersesat dalam dimensi lain,mungkin kami
juga mengalami hal yang sama.Aku bersyukur kepada Tuhan Yang Maha
Esa,kami semua masih di lindungi olehnya.
Selesai sarapan aku mengantara Edo untuk menunggu bus di pinggir
jalan.Ada perasaan aneh yang ku rasakan pada saat perjalanan
kami.Orang orangan sawah yang ku lihat berdiri tak jauh dari pondok
Pak Samir ternyata tidak ada padahal aku dan Yadi melihatnya di sini
dengan jelas semalam.
Saat mengantarkan Edo,dia berjanji akan kembali menjemput kami.Setelah
tiba di kota,aku menaruh harapan besar pada Edo dan memikirkan nasib
kami jika dia tidak kembali.Sepintas setelah bus berlalu,aku melihat
sosok perempuan dengan gaun putih sedang melambai ke arah bus,ia
berdiri di samping pohon besar di seberang jalan raya.
,"ngapain tuh cewek,pagi pagi pake baju putih,pakai lambai lambai
tangan segala?."Ada ada aja?."tanyaku dalam hati.
Aku membalikkan badan dan berjalan menuju pondok Pak Samir,rasa
penasaran tadi mendorongku untuk kembali memalingkan wajahku ke arah
wanita berambut panjang tadi dan aku terkejut ternyata dia sudah tidak
ada disana.Tanpa pikir panjang aku memalingkan wajahku dan berlari
kecil menuju pondok Pak Samir.
,"masak uda pagi begini masih ada setan?."
sungguh tempat yang aneh,dalam hatiku bersyukur dan tidak akan
menginjakkan kaki ke tempat angker ini,cukuplah ini jadi pengalaman
bodoh yang menyeramkan sekali seumur hidupku.
Setelah kami pulang ke kota,kami menanyakan tentang di mana lokasi
perkemahan Pramuka yang hampir membuat kami tersesat dan ternyata
benar,memang kalau rombongan itu tidak jadi berkemah di pantai gosong
karena alasan keamanan siswanya.Mereka berpindah lokasi ke pantai
terkenal di daerahku bernama pantai Pasir Panjang yang letaknya
sedikit lebih jauh dari lokasi kami berada,mungkin mereka sudah tahu
dulu kalau tempat ini angker dan kurang cocok di jadikan lokasi
perkemahan.
Konon katanya dahulu tempat ini sering di jadikan sebagai tempat
ritual ritual gaib semacam pesugihan dan sebangsanya.Tempat ini juga
merupakan tempat pembuangan dari hasil rukyah(pengusiran roh
jahat),entah benar atau tidak,yang penting aku dan teman teman bisa
pulang dengan selamat.
Cerita ini merupakan sebuah pengalaman akhir tahun,sampai saat ini
menyisakan tanda tanya penuh keseraman
.

Misteri Pantai Gosong bag 4(Kisah Misteri).

Pay dan Yaya berusaha mencari kunci pintu pondok yang biasanya di
simpan di tempat bersembunyi oleh Pak Samir.Aku,Edo dan Yadi tidur
tiduran di teras rumahnya,pikirku bukannya ini namanya lancang,bongkar
bongkar pondok orang
,"gimana kalau ada orang lihat kamu..semua mungkin di gebukin warga?."
,"ah..tapi masa bodohlah yang penting bisa tidur di sini daripada
harus tidur di semak semak,gimana kalau banyak ularnya,belum lagi
setannya,males banget ah!."
Pay dan Yaya kembali dengan wajah lesu,mereka tidak berhasil menemukan kuncinya.
harapan kami hanyalah mencari rombongan perkemahan pramuka,menyusuri
jalan setapak yang gelap di bawah cahaya bulan yang teduh,sosok orang
orangan itu tampak masih berada di sana,"tentu saja,"pikirku itukah
orang orangan sawah,mana mungkin dia bergerak.
Aku memberanikan diri untuk memeriksa orang orangan itu.Sosok besar
tinggi di bungkus dengan jubah hitam yang aneh.
bagian kepalanya terbuat dari bungkusan kain kuning serta mengenakan
topi caping di atasnya,Yadi ikut bersamaku memperhatikan,perasaannya
mengatakan orang orangan ini seperti hidup dan sedang memperhatikan
kami.
Kami melanjutkan perjalanan menuruni jalan setapak.
Deburan ombak di pantai samar terdengar mendekat,pertanda pantai sudah
dekat di depan mata kami.
Sampai saat ini masih belum menemukan adanya tanda tanda perkemahan di
sekitar situ justru kami di kejutkan oleh lolongan anjing yang berasal
tak jauh dari situ,lolongan itu terdengar menyedihkan dan menakutkan.
Akupun mulai membaca samar ayat ayat suci yang ku bisa,aku berdoa
mudah mudahan tidak terjadi sesuatu yang kurang menyenangkan.
,"aneh..siapa yang memelihara anjing di tempat sepi ini,anjing itu
pasti ada pemiliknya,"sambar Yaya dengan curiga
,"sst..uda diem,jangan berisik,jalan aja,kita malam ini tidur di
pantai daripada nginap di pondok,udara di pantai gak terlalu dingin,di
tambah pasirnya anget kalo malam hari,"Pay menjelaskan agar kami tidak
perlu berpikir aneh aneh,Pay lebih tahu tentang lingkungan dan kondisi
alam,wajar saja..Pay seorang pencinta alam,pastilah dia punya sedikit
penjelasan tentang itu namun tiba tiba suara lolongan anjing kembali
terdengar,kali ini tepat berada di samping kami,aku dapat melihatnya
dengan jelas,sesosok anjing hutan berbulu tebal,telinganya
runcing,anjing itu melintas sambil melotot ke arah kami,tatapan
matanya tajam seperti serigala,dari matanya terpancar sinar kemerahan.
Entah sedang bermimpi atau berhalusinasi,kami semua hanya bisa terpaku
memperhatikan sosok anjing itu lalu ia menghilang di permukaan
ilalang,saat kami sedang bengong dan bertatapan,anjing itu kembali
melolong,kali ini lolongannya lebih mirip ringkihan yang tertawa dan
kali ini kami berlari tanpa pikir panjang tidak perduli lagi dengan
kegelapan dan jalan berlubang,pokoknya lari berhamburan sekencang
kencangnya.
Aku berlari dengan rasa ketakutan,gelapnya malam ku kalahkan dengan
napas terengah engah sampai akhirnya kita di tepi pantai,sialnya di
sana ternyata tak ada satupun tenda perkemahan rombongan pramuka yang
kami cari,kami sadar bahwa kami telah tersasar dan terpaksa harus
melewati malam di pantai yang sunyi.
Rencana awalnya kami akan pulang menumpang bus rombongan
Pramuka,sesampainya di lokasi perkemahan dan ternyata keputusan kami
salah besar,kami tidak menemukan mereka di sini,keadaan kini menjadi
bertambah rumit,karena kami tidak mempersiapkan makanan,salah satu
dari kami harus pulang ke kota supaya dapat menjemput kami kembali di
sini.
hanya Edolah yang memiliki cukup ongkos untuk melakukannya dan dia
harus berangkat pagi hari karena bus antar kota hanya lewat pada saat
pagi dan sore saja.
Untungnya Yadi bawa 8 bungkus mie instan dalam tasnya.Aku membaginya
supaya cukup di makan sampai jemputan datang.
Pagi hari telah datang,kamipun bersiap kembali ke pondok Pak
Samir,anehnya pintu pondoknya telah terbuka,Pak Samirpun di
dalamnya,padahal ketika kami datang tadi malam,pintu dan jendelanya
persis tertutup.

Misteri Pantai Gosong bag 3(Kisah Nyata).

Kalau gak salah di sekitar sini ada pondok buat nginap,pondok itu
milik pak samir,namun jarang di tempati,tenang aja..Gue udah kenal
dekat ama orangnya,pak samir selalu minjemin tuh pondok buat di
tempati,santai men,"
Kata kata Pay waktu itu membuat diri kami sedikit bertambah
pede,walaupun hati ini masih di landa kebingungan tak
berkesudahan,namun di tengah kegelapan yang sunyi ini,tiba tiba kami
di kagetkan oleh bunyi,"gdbukk!,"seperti sesuatu yang di jatuhkan dari
ketinggian,suara tersebut berasal dari pinggiran ilalang yang tidak
dapat ku lihat karena terlalu gelap,maklum kami berada di daerah antah
berantah,jangankan penerangan listrik,pemukiman penduduk pun belum
ada.Walaupun terdapat beberapa pondok yang letaknya saling berjauhan
sekali,tetap pondok ini kosong tanpa penghuni,"
awalnya aku tidak terlalu mempedulikan hal itu,aku beserta teman yang
lainnya masih berjalan kaki dengan cuek menyusuri jalan setapak yang
hanya di terangi cahaya dari HP Celuler milik Edo,mulanya kami
berjalan kaki dengan jarak agar berjauhan satu sama lain namun aku
menyadari kalau kami berjalan semakin berhimpitan,karena tegang
dengan suasana dan setelah beberapa meter dari tempat tadi,bunyi benda
jatuh itu kembali terdengar
,"gdbuk!!."dadaku bergetar kencang,saat itu kami saling menatap dan
tanpa berkata mempercepat langkah kami.
Kami tidak dapat berlari dengan cepat,kegelapan malam memaksa kami
untuk terus bersama.
Perjalanan ini menjadi sangat menyebalkan pikirku.
Bagaimana mungkin aku dapat berlari cepat sedangkan jalan yang aku
lalui saja tak kelihatan di tambah lagi terdapat banyak lubang dan
lumpur di sana sini.
Aku harus berhati hati supaya tidak terperosok sampai jatuh.
Kami seperti gerombolan tuna netra yang terjebak di tengah jalan
raya.Berjalan dengan meraba namun harus berhati hati di balik rasa
ketakutan kami,aku sempat melihat sekelebat bayangan dengan memakai
jubah hitam dan topi caping mirip orang orangan sawah yang sedang
berdiri dari balik rimbun ilalang,dia seperti sedang memperhatikan
kami namun teman temanku tidak menyadarinya,pikirku itu hanya
perasaanku atau itu memanglah orang orangan sawah biasa.
,"wah,tuh ada rumah,"ujar Yaya tiba tiba dengan nada sedikit berteriak
,"ya itu dia pondoknya pak samir,"sambung Pay yang mengenali pondok
itu,rasa gentar kamipun berubah jadi saat akhirnya menemukan tempat
beristirahat.Hatiku lega karena akhirnya kami dapat meluruskan badan
untuk beristirahat semalam,saat yang ada di pikiranku bukannya
menemukan lokasi perkemahan rombongan Pramuka,menemukan sebuah pondok
untuk menginap adalah hal yang paling indah saat itu.
Kami masuk menuju teras rumah yang lantainya berserakan dedaunan
kering dan di tumbuhi beberapa tanaman di sekitarnya,akhirnya
keberuntungan berpihak pada kami,bulanpun mulai terang walaupun
cahayanya hanya sedikit memperjelas pandangan.
Entah mengapa mataku masih ingin menatap ke arah tempat orang orangan
sawah yang ku lihat tadi dan sosok itu masih berada di sana,berdiri
layak seperti sedang memperhatikan kami.

Misteri Pantai Gosong bag 2(Kisah Nyata).

Sore harinya dengan berbekal modal nekat dan ongkos seadanya,kami
berangkat dengan menggunakan angkutan umum bus antarkota yang haltenya
tak jauh dari rumah Edo.
Kami berlima jadi melakukan perjalanan bodoh yang tak terlupakan
bahkan sampai sekarang.
Perjalanan dari kota menuju pantai tersebut memakan waktu kurang lebih
tiga sampai empat jam lamanya,tergantung dari sering tidaknya tingkah
pak sopir yang hobi nyinggah di tempat peristirahan bahkan perjalanan
akan terasa lebih lama jika pak sopir sering menaikkan dan menurunkan
penumpang dalam perjalanan.
Singkat cerita,kami sudah hampir sampai pada tempat tujuan kami,pantai gosong.
Edo yang mengenali tempat tersebut,meminta pak sopir untuk memberhentikan
busnya dan kami mulai turun satu per satu.
Sinar lampu bus menerangi rerumputan tempat kami berpijak dan kami
berhenti pada sebuah jalan setapak yang di sekelilingnya di kerumuni
dengan rimbunan ilalang dan semak belukar yang tidak terlalu
tinggi.Aku tidak dapat melihat ke arah sekelilingku lebih jelas,karena
tempat ini di tutupi oleh kegelapan malam plus belum adanya perumahan
penduduk di sekitar ini.Dan bodohnya lagi tidak ada satu orangpun dari
kami yang membawa senter untuk menerangi jalan.
Sayup sayup lampu bus antar kota yang menerangi kami berangsur
pudar,bus kembali melanjutkan perjalanannya menuju kota berikutnya dan
seketika suasanapun menjadi gelap,kami terpaksa harus melalui
kegelapan malam dengan berjalan kaki,untungnya HP Celuler Edo punya
sinar yang cukup terang sehingga kami terpaksa menunggu bulan terang
yang masih bersembunyi di balik awan.
Anehnya aku tidak melihat adanya tanda tanda perkemahan di sekitar situ.
Sebuah perkembahan seharusnya bisa di lihat dari kejauhan meskipun
dalam keadaan gelap.Karena biasanya di terangi api unggun di sekitar
perkemahan.
Ah..Itu mungkin karena tempatnya masih jauh dari sini,"gumamku dalam hati.
Tanpa berpikir keras akupun terus mengikuti langkah teman temanku yang
cuma di pandu oleh sinar dari HP celular Edo.
,"apa kita gak salah tempat tuh?."tanya Yaya memecah keheningan.Aku
juga yakin dalam hati,kalau kami sebenarnya salah tempat alias nyasar.
,"gue yakin kok,ini tempat yang bobby bilang kalau mereka akan
berkemah di pantai gosong,gue denger sendiri kok,"Edo yakin kalau anak
pramuka akan berkemah di sini,dia mendengarnya sendiri dari
temannya,Bobby.
Yang merupakan anggota dari panitia rombongan pramuka
tersebut.Jadi menurutnya informasi yang di dapatkannya sudah benar.
Pay mencoba menenangkan ketegangan bahwa dulu ia juga pernah
mengadakan ekspedisi di tempat ini,gak heran memang Pay merupakan
anggota kelompok pecinta alam yang notabene sering kali ekspedisi ke
tempat tempat aneh kayak gini.

Misteri Pantai Gosong bag 1.

Libur panjang Sekolah telah tiba,setiap akhir tahun biasanya anak anak
Pramuka di Sekolah kami sering mengadakan tur liburan akhir
tahun.Menuju sebuah lokasi perkemahan,di sebuah tempat di tepian
pantai dengan menyewa kendaraan yang besar(bus) mereka bertolak dari
kota menuju lokasi perkemahan.
Aku dan teman temanku bukanlah kumpulan dari mereka,kami bahkan tidak
peduli dengan kegiatan para pramuka itu,kami menghabiskan liburan
Sekolah dengan bermain playstation bersama di rumah temanku,Edo.
,"cari perkara aja mereka,"ucap Pay,salah satu temanku yang sedang
bermain playstation mengomentari kegiatan anak anak Pramuka ini bisa
menimbulkan masalah karena lokasi perkemahan yang mereka tuju,adalah
sebuah tempat yang terkenal angker dan sangat sunyi di malam hari.
,"emang kapan nih berangkatnya?."tanya Yaya penasaran dan serius tertarik.
,"kemarin siang pakai bus,"jawab Pay,anak anak Pramuka beserta
Pembinanya bertolak dari gedung sekolah menuju Pantai Gosong.
Pantai ini di juluki sesuai dengan namanya di karenakan bebatuan dan
airnya yang berwarna gelap.
Aku berbaring di sebelah mereka yang sedang asyik mengobrol juga ikut
mendengarkan pembicaraan mereka sembari membaca buku komik
kesayanganku yang selalu ku baca kemanapun,meskipun telah ku baca
entah berulang kali.
Pada siang hari itu,kamar edo terasa panas membara walaupun ruangan
ini telah terpasang kipas angin berukuran sedang yang kadang butuh
waktu dan kesabaran untuk menghidupkannya tapi tiba tiba saja Edo,sang
pemilik kamar muncul dengan wajah tersenyum.Yang agak sedikit
menyebalkan.Dia seakan akan menanggapi obrolan kami barusan padahal
seragam sekolahnya masih menempel padanya.yang menandakan dia baru
pulang sekolah.
,"yuk,kalo gak ada kerjaan,gimana kalau kita nyusulin anak pramuka aja!."
kok bisa bisa dia nongol nongol langsung ngasih ide begituan.Awalnya
kami tidak terlalu menanggapi ajakan Edo,karena jujur saja kami semua
tidak memiliki ongkos yang cukup untuk menyusul rombongan tersebut
tetapi Edo dengan gigih menyakinkan kami bahwa kami tidaklah perlu
mempersiapkan apapun,Edo menjamin sampai tiba di sana dan ketika
bertemu rombongan Pramuka itu segala kebutuhan kami akan terpenuhi.